Kemenangan Caleg Baru Partai Golkar Dapil 3 Bantul Diduga Kuat Karena Praktik Money Politik

Bagikan

Bantul, (Metro Indonesia) — Tersingkirnya Caleg Incumbent Partai Golkar di Dapil 3 (Imogiri, Pleret, Dlingo) Suryono dalam ajang kontestasi Pileg pada 14 Februari 2024 kemarin masih menyisakan masalah. Pasalnya tersebar informasi jika oknum Caleg pendatang baru yang mampu mengungguli perolehan suara dari Caleg Incumbent diduga menggunakan strategi money politik yang tersebar secara masih diseluruh wilayah 3 Kapanewon yang masuk Dapil 3 tersebut.

Mengetahui adanya dugaan praktik money politik secara masif yang dilakukan oleh Caleg baru Partai Golkar di Dapil 3 Bantul sehingga membuat dirinya unggul dalam kontestasi Pileg 2024 ini, tim media mencoba menggali informasi dari warga masyarakat di wilayah Kapanewon Dlingo, Pleret dan Imogiri. Dari hasil investigasi tim media memang benar diperoleh informasi dari warga jika mereka menerima sejumlah uang dari caleg yang bersangkutan melalui kader kadernya di setiap dusun.

Salah satu warga Kalurahan Terong dengan inisial SL (35) saat diwawancarai tim media pada Senin Tanggal 4 Maret 2024 lalu menyebut jika warga RT yang SL tempati kompak mendukung Caleg Partai Golkar untuk DPRD 2 Bantul dengan inisial SRA dan DPRD 1 DIY dengan inisial SRD yang berasal dari Kapanewon Dlingo dengan imbalan 12 juta untuk 60 suara.

“RT kami mendapat 12 juta dari Caleg Golkar SRD dan SRA, mereka asli Dlingo, mereka juga suami istri, untuk SRD Caleg Provinsi dan SRA Caleg Kabupaten. 12 juta itu borongan untuk 60 suara, jadi untuk 1 orang mendapat 200 ribu untuk mencoblos SRD dan SRA,” jelas SL.

Ditempat lain, tepatnya masuk wilayah Kaluran Temuwuh, tim media mewawancarai seorang ibu rumah tangga dengan inisial LGR (54). Kepada tim media LGR menyampaikan jika dirinya bersama keluarganya menerima uang sejumlah 400 ribu dari Caleg Golkar SRA melalui kadernya dengan inisial PTK (45).

“Benar, saya menerima uang 400 ribu dari PTK yang merupakan kader dari SRA, karena anggota keluarga saya 4 orang. Uang 400 itu untuk imbalan kami mencoblos SRA yaitu Caleg Kabupaten dari Partai Golkar yang beralamat di Temuwuh sini juga,” ungkap LGR.

Hal yang sama juga ditemukan tim media saat berkunjung di rumah FRD (32) warga Kalurahan Jatimulyo pada Kamis Tanggal 7 Maret 2024, FRD mengaku jika dirinya menerima 150 ribu untuk mencoblos SRD dan SRA pada Pileg 14 Februari 2024 kemarin.

“Saya mendapat uang 150 ribu dari SRA dan SRD melalui kadernya disini yang berinisial WGM (43), uang tersebut untuk mencoblos paket caleg kabupaten dan provinsi yaitu SRA dan SRD dari Partai Golkar,” tegas FRD.

Tim media juga mendapat informasi adanya dugaan money politik oleh SRA di wilayah Kalurahan Muntuk, Kalurahan Mangunan dan juga Kalurahan Dlingo. Sedang untuk wilayah Kapanewon Pleret dan Kapanewon Imogiri tim media juga sudah menerima informasi praktik yang sama.

Sungguh sangat disayangkan jika hanya demi sebuah jabatan duduk menjadi anggota DPRD Kabupaten Bantul harus melakukan money politik secara masif. Padahal jelas sudah di atur dalam Undang Undang jika Pelaku maupun penerima politik uang (money politik) bisa dijerat Undang-Undang Pemilu Nomor 7 Tahun 2017, dengan sanksi pidana berupa kurungan penjara selama tiga tahun dan denda paling banyak Rp 36 juta. Karena politik uang adalah perbuatan curang dalam Pemilihan Umum (Pemilu) yang hakikatnya sama dengan korupsi.

Politik uang juga akan berdampak buruk bagi pemilu dan penguatan demokrasi di Indonesia. Selain pembodohan terhadap pemilih, persaingan antar kandidat atau peserta (parpol) akan menjadi lebih timpang.

Menyikapi hal tersebut tim media akan berkoordinasi dengan Bawaslu Kabupaten Bantul dan akan terus melakukan investigasi guna menemukan bukti lebih terkait praktik money politik yang dilakukan Caleg Golkar Dapil 3 Bantul SRA. Tim media akan terus melakukan investigasi di seluruh wilayah Dapil 3 (Imogiri, Pleret, Dlingo) terkait praktik money politik. Tunggu berita selanjutnya.

(tim red)