Pandemi Covid-19: Pembelajaran Jarak Jauh di Lituania dan Tantangan Guru Biologi di Indonesia

Bagikan

Yogyakarta (MetroIndonesia) — Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta (FMIPA UNY) menggelar 8 tahun International Conference on Research, Implementation and Education of Mathematics and Science (8th ICRIEMS) secara daring pada (27-28/8/21).

Seminar menghadirkan keynote speaker Prof. Dr. Paidi, M.Si., FMIPA UNY, Dr. Syarif Riyadi dari Energy Academy Indonesia, Prof. Dr. Vincentas Lamanauskas dari Vilnius University Siauliai Academy, Institut of Education Lithuania, Dr. Ir. WT Van Horssen dari Electrical Engineering, Methemetics and Computer Science Delft Institute of Applied Mathematics, Belanda. Sedangkan Invited speakers yaitu Dr. Dian Kesuma Pramudya Nurputra, Ph.D., M.Sc., Sp.A dari UGM dan Dr. Sri Wahyuni, M.Pd. Universitas Jember.

Prof. Vincentas Lamanauskas dalam paparannya menjelaskan, proses pembelajaran jarak jauh dan evaluasinya selama pandemi COVID-19 adalah objek penelitian ilmiah yang sangat relevan. Menganalisis akumulasi pengalaman, kami tidak hanya dapat mengevaluasi situasi pembelajaran jarak jauh di perguruan tinggi Lituania selama pandemi, tetapi juga dengan menganalisis tantangan yang ditimbulkan oleh pembelajaran jarak jauh dan membuka peluang baru, untuk mencari arah untuk meningkatkan pembelajaran jarak jauh.

“Pada Januari-Februari 2021, studi kualitatif dilakukan, di mana 158 mahasiswa dari tiga universitas Lithuania berpartisipasi. Sebagian besar responden adalah mahasiswa program studi sosial dan kemanusiaan. Data kualitatif yang diperoleh atas dasar pertanyaan terbuka dianalisis dengan menggunakan metode analisis isi kuantitatif, yaitu subkategori dan kategori semantik menurut dua variabel utama dibedakan yaitu kesamaan antara kuliah reguler dan jarak jauh, dan aspek positif dan negatif dari kuliah jarak jauh,” jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskan, ditemukan bahwa kesamaan tertentu adalah karakteristik dari kuliah reguler dan jarak jauh, dan aspek positifnya jauh lebih besar daripada aspek negatifnya. Sementara kesulitan belajar adalah faktor terpenting yang menyebabkan pengalaman belajar yang membuat frustrasi, kelelahan telah ditemukan sebagai penyebab utama pengalaman belajar yang penuh tekanan.

Vincentas Lamanauskas menerangkan bahwa kuliah jarak jauh memiliki keuntungan yang jelas. Kenyamanan belajar telah disorot sebagai keuntungan utama karena siswa memiliki kemungkinan yang lebih baik untuk menggabungkan studi dengan pekerjaan dan kebutuhan pribadi. Pembelajaran jarak jauh telah menghasilkan penghematan finansial, yang selalu relevan bagi siswa. Mahasiswa menghargai fleksibilitas studi yaitu, memperhatikan pekerjaan dan upaya dosen memastikan kelancaran proses studi.

“Tidak diragukan lagi, kekurangan tertentu dari kuliah jarak jauh telah disorot. Ternyata mahasiswa merasakan penurunan kesehatan fisik dan mental, efek negatif kuliah jarak jauh terhadap kesehatan mental terlihat; menghabiskan banyak waktu di depan layar komputer, tentu saja, juga memperburuk kesehatan fisik. Pembelajaran jarak jauh telah merampas kesempatan siswa untuk menyadari kebutuhan sosial mereka, siswa merasa kurangnya komunikasi, tidak memiliki kemungkinan untuk bersosialisasi,” katanya.

Pembicara lain, Prof. Dr. Paidi menerangkan, pandemi Covid-19 sudah berlangsung lebih dari satu setengah tahun, namun masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran online khususnya dalam pembelajaran biologi. Siswa mengalami kesulitan dalam menguasai materi pelajaran biologi, mengikuti prosedur, dan memperoleh keterampilan proses ilmiah. Mereka bahkan sulit untuk belajar bersama dan berkonsultasi dengan kesulitan belajar mereka.

“Kesulitan guru dalam mempersiapkan dan menata objek dan kegiatan pembelajaran biologi di era Pandemi Covid-19 sangat mungkin mempengaruhi keberhasilan siswa dalam meningkatkan keterampilan ilmiahnya. Guru biologi perlu dibantu dalam melakukan reorientasi bentuk kegiatan belajar mengajar yang memungkinkan siswa mengembangkan seluruh ranah kompetensinya. Oleh karena itu, guru biologi perlu didukung untuk menemukan berbagai objek dan kegiatan pembelajaran yang layak dan relevan,” tandasnya.

Prof. Paidi menambahkan, para ahli pendidikan biologi menyarankan agar pemanfaatan benda-benda dari lingkungan sekitar, media berbasis TIK, simulasi, pengetahuan prosedural yang tersedia di internet menjadi objek pembelajaran biologi. Benda-benda tersebut sangat layak digunakan untuk kegiatan pembelajaran biologi dalam pengamatan, pengukuran, klasifikasi, dan proses ilmiah lainnya. Ini juga relevan untuk aktivitas proyek individu dan eksperimen sederhana. Guru biologi kemudian ditantang untuk melakukan reorientasi bagaimana merancang dan mengelola kegiatan belajar mengajar biologi menggunakan objek dan aktivitas melalui blended learning guna membantu siswa mengembangkan pengetahuan dan keterampilan ilmiahnya.

(Kontributor : Witono)